Satelit Nusantara 5: konektivitas untuk Indonesia
Indonesia terus melakukan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas layanan internet nasional melalui peluncuran Satelit Nusantara 5 ke orbit geostasioner pada posisi 113 derajat Bujur Timur dengan ketinggian sekitar 35.786 kilometer di atas permukaan Bumi.
Satelit komunikasi sendiri merupakan satelit buatan yang diorbitkan khusus untuk kebutuhan telekomunikasi menggunakan gelombang radio frekuensi mikro. Umumnya satelit komunikasi menggunakan orbit Geostasioner (Geostationary Orbit/GSO), meski beberapa teknologi terbaru mulai memanfaatkan orbit rendah atau Non Geostationary Orbit (NGSO).
Dalam sistem kerjanya, satelit dapat dianalogikan seperti “pak pos di langit dengan megafon raksasa”. Stasiun bumi mengirimkan sinyal ke satelit di luar angkasa, kemudian satelit menangkap sinyal tersebut, memperkuat dayanya, lalu memancarkannya kembali ke stasiun bumi penerima.

Salah satu keunggulan utama sistem komunikasi satelit adalah kemampuannya melakukan layanan broadcast dengan cakupan sangat luas. Satu satelit GSO bahkan mampu melayani hingga sepertiga permukaan bumi. Sementara luas layanan sangat bergantung pada kapasitas transponder yang dimiliki satelit tersebut.
Satelit Nusantara 5 milik Indonesia hadir sebagai satelit dengan kapasitas terbesar di Asia, yakni mencapai 160 Gbps. Dengan teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS), satelit ini mencakup layanan Indonesia sebesar 140 Gbps, Malaysia 20 Gbps, dan Filipina hingga 120 Gbps. Satelit ini mulai beroperasi pada Mei 2026 dengan target usia operasional lebih dari 15 tahun.
Kehadiran Satelit Nusantara 5 diharapkan menjadi solusi pemerataan akses internet, khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang masih sulit dijangkau jaringan kabel optik maupun infrastruktur telekomunikasi darat.
Selain memperluas akses internet pita lebar di daerah terpencil, satelit ini juga mendukung berbagai sektor strategis seperti pendidikan jarak jauh, layanan telemedicine terpadu, pengembangan ekonomi digital UMKM, perluasan sinyal 4G/5G, hingga jaringan komunikasi khusus untuk pemerintah dan keamanan nasional.
Balmon Jogja menilai keberadaan Satelit Nusantara 5 akan memperkaya pilihan infrastruktur telekomunikasi berkecepatan tinggi sekaligus membantu mengurangi kesenjangan digital antara perkotaan dan wilayah 3T.
“Dari sisi kualitas layanan, Satelit Nusantara 5 memperkaya pilihan infrastruktur berkecepatan tinggi untuk pemerataan telekomunikasi dan mengikis digital gap kota-3T,” demikian pandangan Balmon Jogja.
Balmon Jogja juga menilai bahwa apabila operator seluler memanfaatkan satelit sebagai backbone transmisi, maka kualitas layanan seluler yang diterima masyarakat otomatis ikut meningkat. Hal tersebut karena kualitas layanan telekomunikasi di lapangan sangat dipengaruhi oleh kualitas jaringan transmisi yang digunakan.
Dengan dukungan satelit ini, operator seluler yang selama ini mengalami kendala menghadirkan konektivitas di wilayah 3T diharapkan dapat menggunakan layanan satelit sebagai media transmisi utama maupun cadangan.
Sementara itu, berdasarkan hasil pengukuran Tim QoS di wilayah kerja Balmon Jogja, kualitas layanan internet secara umum berada pada kategori baik dan mendukung aktivitas digital masyarakat.
Pengukuran pada jaringan 4G menunjukkan hasil sebagai berikut:
- Download (kecepatan unduh data): 55,05 Mbps — kategori sangat baik
- Upload (kecepatan unggah data): 26,83 Mbps — kategori sangat baik
- Latency atau waktu respons jaringan: 66,36 ms — kategori cukup/wajar
- Browsing atau pengalaman menjelajah internet: 6,14 Mbps — kategori baik/cepat
- Streaming video dan komunikasi digital: 4,25 MOS — kategori baik/bagus
- Kualitas sinyal: -88,3 dBm — kategori baik/kuat
Parameter tersebut digunakan untuk mengukur kualitas layanan internet dari sisi pengguna di lapangan, mulai dari kestabilan jaringan, kecepatan akses data, hingga kualitas komunikasi digital.

Menurut Balmon Jogja, monitoring kualitas internet sangat penting karena internet kini menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam berbagai aktivitas, mulai dari komunikasi, pendidikan, pekerjaan hingga layanan digital sehari-hari.
Melalui monitoring berkala oleh Tim QoS (Quality of Service), kualitas layanan telekomunikasi dapat terus dipantau dan dievaluasi agar masyarakat memperoleh layanan internet yang andal, merata, dan berkualitas di seluruh Indonesia.
Sumber/referensi: Junrevol Wicansana Putra
Ketua Tim Kerja Kualitas Layanan Infrastruktur Digital
Balmon Jogja https://www.facebook.com/share/p/1DvRv2wxqm/
