BANTUL — Pemerintah Kabupaten Bantul menggelar rangkaian kegiatan Peringatan Refleksi 20 Tahun Gempa Bumi Bantul 2026 dengan tema “Dua Dasawarsa Gempa Bumi Bantul 2026: Bantul Tangguh, Waspada, dan Berdaya” di kawasan Monumen Gempa, Dusun Potrobayan, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Bantul, Sabtu (23/5/2026). Dalam kesempatan ini ORARI turut ambil bagian dalam Refleksi Gempa Bantul 2026, tekankan pentingnya komunikasi kebencanaan.
Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi bersama atas tragedi gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di DIY, khususnya Kabupaten Bantul. Selain mengenang peristiwa besar tersebut, kegiatan juga menjadi sarana memperkuat edukasi kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana kepada masyarakat.
Berbagai unsur terlibat dalam peringatan tersebut, mulai dari pemerintah, relawan kebencanaan, komunitas masyarakat, hingga Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) yang selama ini dikenal sebagai cadangan nasional di bidang komunikasi radio.
Refleksi dua dekade bencana bersejarah ini berfokus pada beberapa poin utama:
- Pembaruan Sistem Mitigasi: Pemerintah Kabupaten Bantul mendorong inovasi dan penambahan peralatan mitigasi kebencanaan menyusul ancaman gempa yang diakibatkan oleh Sesar Opak.
- Ketangguhan Masyarakat: Edukasi kepada warga terus ditingkatkan agar masyarakat lebih waspada dan berdaya dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.
- Peringatan Sejarah: Mengenang peristiwa 27 Mei 2006, di mana gempa berkekuatan \(5,9\)

Ketua Umum ORARI, Donny Imam Priambodo, ST., MM. (YB0DX) hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama Sekretaris Jenderal ORARI Yusuf Budhiyanto (YB3DY) serta Ketua ORARI Daerah DIY R. Ambar Parama Putra, SH. (YB2UFM) beserta jajaran pengurus daerah.
ORARI Buka Stand Pameran dan Edukasi Komunikasi Darurat
Dalam rangkaian kegiatan refleksi tersebut, ORARI turut membuka stand pameran di kawasan titik episentrum gempa bumi Dusun Potrobayan. Stand ORARI Daerah DIY tersebut menampilkan berbagai perangkat komunikasi radio amatir serta edukasi mengenai fungsi komunikasi darurat dalam penanganan bencana.

Keikutsertaan ORARI dalam Refleksi 20 Tahun Gempa Bumi di Bantul ini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya komunikasi alternatif saat kondisi darurat, terutama ketika jaringan komunikasi umum mengalami gangguan akibat bencana.
Selain membuka stand pameran, ORARI juga menggelar bimbingan teknis komunikasi radio kebencanaan yang disampaikan langsung oleh Ketua Umum ORARI, OM Donny YB0DX. Materi tersebut menitikberatkan pada kesiapan operator radio amatir dalam mendukung koordinasi evakuasi, distribusi bantuan, dan penyampaian informasi darurat di lapangan.

“Komunikasi radio menjadi salah satu sarana vital saat terjadi bencana. Ketika jaringan komunikasi umum terganggu, radio amatir dapat menjadi jalur komunikasi alternatif yang membantu proses penanganan darurat,” ungkap OM Donny.
Simulasi Peringatan Dini Gempa
ORARI juga turut ambil bagian dalam Sarasehan Peringatan Refleksi 20 Tahun Gempa Bumi Bantul dengan melakukan simulasi peringatan dini terhadap bencana, khususnya gempa bumi. Simulasi tersebut menjadi bagian dari edukasi publik mengenai pentingnya respon cepat dan koordinasi komunikasi saat terjadi bencana. Secara langsung Muhammad Ayyub YC2VCA melakukan simulasi menggunakan alat yang sudah terintegrasi dengan system Bantul Integrated Sirene System (BISS) yang merupakan ekstensi dari penyebaran peringatan dini.

Sarasehan tersebut dihadiri oleh Bupati Bantul, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Kepala BPBD DIY, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Kepala Stasiun Geofisika, serta masyarakat sekitar Potrobayan.
Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat budaya sadar bencana di tengah masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Mengenang Tragedi Gempa 2006
Gempa bumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006 berkekuatan 6,3 magnitudo menjadi salah satu bencana paling besar yang pernah terjadi di DIY dan Jawa Tengah. Kabupaten Bantul menjadi wilayah terdampak paling parah dengan ribuan korban jiwa serta kerusakan besar pada permukiman dan infrastruktur.
Dalam peringatan dua dekade tragedi tersebut, sejumlah kegiatan sosial juga digelar seperti pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, dan pameran foto dokumentasi gempa Yogyakarta 2006 yang menggambarkan kondisi masyarakat pascabencana kala itu. Sementara untuk mengenang dan menyebarkan informasi secara luas ORARI Daerah Yogyakarta dan ORARI Lokal Kota Yogyakarta mengadakan kegiatan Special Event Station (SES) 8G20GJ dan SES 8G20GBY.
Melalui kegiatan refleksi ini, diharapkan semangat gotong royong, kesiapsiagaan, dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana dapat terus terjaga dan semakin diperkuat di masa mendatang.
Sumber: ORARI https://www.facebook.com/groups/294889372580253
