Mengenal CORE ORARI sebagai satuan tugas komunikasi darurat ORARI yang berperan mendukung penanggulangan bencana melalui jaringan radio amatir saat sarana telekomunikasi umum mengalami gangguan atau tidak berfungsi.
Dalam berbagai kejadian bencana alam maupun keadaan darurat, komunikasi menjadi salah satu kebutuhan paling penting. Ketika jaringan listrik, telepon, internet, maupun seluler mengalami gangguan atau bahkan lumpuh total, radio amatir sering kali menjadi sarana komunikasi alternatif yang tetap dapat diandalkan.
Di lingkungan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), dukungan komunikasi kebencanaan dilaksanakan melalui CORE ORARI (Communication in Rescue and Emergency ORARI), yaitu satuan tugas yang berfokus pada penyelenggaraan komunikasi darurat untuk mendukung kegiatan pencarian dan pertolongan (SAR), penanganan bencana, serta koordinasi kemanusiaan.
“When All Else Fails, Amateur Radio Survives”
“Ketika Semua Gagal, Radio Amatir Tetap Bertahan“
Semboyan tersebut menggambarkan peran radio amatir sebagai salah satu sarana komunikasi cadangan yang dapat digunakan ketika sistem komunikasi lainnya tidak lagi berfungsi.
Apa Itu CORE ORARI?
CORE ORARI merupakan satuan tugas komunikasi darurat yang berada di bawah ORARI dan bertugas membantu penyediaan layanan komunikasi radio pada kondisi darurat maupun bencana.
Keberadaan dukungan komunikasi amatir radio dalam penanggulangan bencana sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menekankan pentingnya koordinasi, informasi, dan komunikasi dalam setiap tahapan penanganan bencana.
Melalui jaringan anggota CORE ORARI yang tersebar di seluruh Indonesia, ORARI dapat berperan dan membantu menjembatani komunikasi antara berbagai unsur dalam operasi kemanusiaan.
Peran CORE ORARI dalam Siklus Penanggulangan Bencana
1. Pra Bencana
Pada tahap kesiapsiagaan, anggota CORE ORARI melaksanakan berbagai kegiatan seperti:
- Latihan komunikasi darurat (Dukom)
- Simulasi penanggulangan bencana
- Uji jaringan dan kesiapan peralatan radio
- Pemantauan informasi peringatan dini (early warning system)
Frekuensi yang umum digunakan dalam latihan dan kesiapsiagaan antara lain:
- HF 80 Meter: 3.760 MHz USB
- HF 40 Meter: 7.100 MHz USB
- VHF Nasional: 145.000 MHz FM
2. Saat Bencana
Ketika bencana terjadi, CORE ORARI dapat berperan sebagai penghubung komunikasi antara:
- Posko Penanganan Bencana
- BASARNAS
- BPBD
- PMI
- Rumah Sakit
- Pemerintah Daerah
- Relawan dan unsur terkait lainnya
Komunikasi yang disampaikan biasanya berupa laporan situasi, kebutuhan bantuan, kondisi korban, hingga koordinasi logistik.
3. Pasca Bencana
Setelah masa tanggap darurat, dukungan komunikasi masih diperlukan untuk:
- Distribusi bantuan
- Pelaporan perkembangan situasi
- Pelacakan korban dan keluarga
- Koordinasi pemulihan wilayah terdampak
Prinsip Dasar Komunikasi Darurat
Agar komunikasi berjalan efektif, terdapat beberapa prinsip yang harus dipatuhi oleh operator radio dalam kondisi darurat.
Prioritas Pesan
Pesan yang berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia harus mendapatkan prioritas tertinggi.
Dalam komunikasi radio darurat dikenal istilah:
- MAYDAY untuk keadaan yang mengancam jiwa
- PAN PAN untuk keadaan mendesak namun tidak mengancam jiwa secara langsung
Komunikasi yang Jelas dan Ringkas
Pesan harus disampaikan secara:
- Singkat
- Jelas
- Faktual
- Tidak menimbulkan multitafsir
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan mudah dipahami sangat dianjurkan.
Disiplin Jaringan (Net Discipline)
Operator wajib mengikuti arahan Net Control Station (NCS) dan menghindari percakapan yang tidak berkaitan dengan operasi darurat.
Pencatatan Logbook
Seluruh lalu lintas komunikasi harus dicatat secara lengkap, meliputi:
- Waktu komunikasi
- Frekuensi
- Call sign
- Isi pesan
- Tindak lanjut
Logbook menjadi dokumen penting dalam evaluasi operasi dan pelaporan resmi.
Efisiensi Daya dan Peralatan
Karena kondisi bencana sering kali diikuti keterbatasan sumber daya listrik, penggunaan daya pancar dan perangkat harus dilakukan secara efisien.
Prosedur Panggilan Darurat di Frekuensi ORARI
Sebelum melakukan panggilan darurat:
- Dengarkan frekuensi terlebih dahulu selama beberapa saat.
- Pastikan tidak sedang berlangsung komunikasi prioritas yang lain.
- Sampaikan panggilan darurat secara jelas.
Contoh format:
“MAYDAY MAYDAY MAYDAY, ini YB2KGM, YB2KGM, YB2KGM. Menerima emergency. Over.”
Setelah mendapatkan respons dari NCS, operator dapat menyampaikan laporan menggunakan format SITREP.
Format SITREP
S — Situation
Kondisi kejadian dan jumlah korban.
I — Injuries
Kondisi medis atau jenis cedera korban.
T — Time
Waktu kejadian.
R — Resources
Bantuan atau sumber daya yang dibutuhkan.
E — Exact Location
Lokasi atau koordinat secara rinci.
P — People
Jumlah personel yang berada di lokasi.
Frekuensi Siaga Bencana ORARI
Beberapa frekuensi yang umum digunakan dalam komunikasi siaga bencana antara lain:
| Band | Frekuensi | Mode | Keterangan |
|---|---|---|---|
| HF 80 Meter | 3.760 MHz | USB | Net Nasional |
| HF 40 Meter | 7.100 MHz | USB | Net Darurat Nasional |
| VHF 2 Meter | 145.000 MHz | FM | Frekuensi Pemanggil Nasional |
| VHF 2 Meter | 147.000 MHz | FM | Frekuensi Kedaruratan Nasional |
Penggunaan frekuensi tetap mengikuti ketentuan yang berlaku dan arahan pengendali jaringan pada saat operasi berlangsung.
Kode Etik Anggota CORE ORARI
Dalam menjalankan tugas komunikasi darurat, anggota CORE ORARI diharapkan:
- Bersikap netral dan tidak terlibat aktivitas politik praktis.
- Mengutamakan informasi dari instansi berwenang seperti BASARNAS, BPBD, PMI, TNI, POLRI, dan DAMKAR.
- Menjaga kerahasiaan data korban sesuai ketentuan yang berlaku.
- Tidak meminta imbalan atas bantuan komunikasi darurat yang diberikan.
Metode Pelaporan Cepat 4W + 1H
Selain SITREP, anggota CORE ORARI juga perlu memahami metode pelaporan cepat 4W + 1H yang umum digunakan dalam operasi kebencanaan.
What
Apa yang terjadi?
Contoh:
“Banjir bandang setinggi dua meter.”
Where
Di mana lokasi kejadian?
Contoh:
“Dusun Polosari, Kota Magelang.”
When
Kapan kejadian terjadi?
Contoh:
“Pukul 03.15 WIB.”
Who
Siapa yang terdampak?
Contoh:
“20 KK terdampak dan 80 jiwa mengungsi.”
How
Bagaimana kondisi saat ini?
Contoh:
“Akses jalan terputus dan membutuhkan perahu karet.”
Metode ini membantu NCS menerima informasi penting dalam waktu singkat tanpa harus mengulang banyak pertanyaan.
Kesiapan Operator Menentukan Keberhasilan Komunikasi Darurat
Peralatan yang lengkap tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa operator yang terlatih dan disiplin. Oleh karena itu, kesiapan anggota CORE ORARI mencakup tiga aspek utama:
- Kesiapan personel
- Kesiapan peralatan
- Kesiapan prosedur komunikasi
Melalui latihan yang berkesinambungan, pencatatan yang baik, serta disiplin dalam penggunaan frekuensi, radio amatir dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Sebagaimana semangat yang selalu dijunjung oleh para relawan komunikasi:
“Siap Siaga, Siap Bertindak, Siap Berkomunikasi.”
Kontribusi: YB2KGM Eddie Widjanarko – CORE ORARI Lokal Kota Magelang (YH2BE)
