Komunikasi amatir radio memiliki peran penting dalam mendukung operasi penanggulangan bencana di Indonesia. Dengan mengikuti tata cara, etika, dan prosedur komunikasi darurat yang benar, anggota ORARI dapat membantu mempercepat pengiriman informasi kritis, memastikan koordinasi tim penyelamat, serta melindungi keselamatan masyarakat.
Dengan kesiapan, disiplin, dan kerja sama yang solid, jaringan komunikasi amatir radio terbukti menjadi salah satu tulang punggung komunikasi darurat yang handal ketika seluruh sistem lain lumpuh.
(ORARI). Dengan kemampuan komunikasi independen dari jaringan telekomunikasi umum, amatir radio sering menjadi garda terdepan ketika listrik padam, BTS seluler lumpuh, dan akses informasi terputus. Berikut adalah ringkasan Tata Cara Komunikasi Amatir Radio ORARI dalam Situasi Darurat.
Agar proses komunikasi berjalan efektif, aman, dan sesuai prosedur, ORARI memiliki pedoman baku komunikasi amatir dan komunikasi darurat. Artikel ini merangkum tata cara komunikasi Amatir Radio ORARI dalam situasi darurat yaitu panduan untuk mendukung operasi penanggulangan bencana.
TATA CARA KOMUNIKASI AMATIR & DARURAT (EMERGENCY) ORARI
1. Persiapan Sebelum Mengudara
Sebelum seorang amatir radio melakukan komunikasi, ia wajib memastikan bahwa semua kelengkapan administrasi dan teknis dalam kondisi siap. Persiapan ini penting agar komunikasi berlangsung legal, tertib, dan dapat dipertanggungjawabkan.
a. Dokumen yang Harus Dibawa
- Izin Amatir Radio (IAR)
- Izin Penguasaan Perangkat Amatir Radio (IPPRA)
- Kartu Tanda Anggota ORARI (KTA)
b. Administrasi Pendukung
- Buku daftar anggota amatir radio (Call Book)
- Buku catatan komunikasi (Logbook)
- Kartu konfirmasi kontak (QSL Card)
- Buku panduan komunikasi
- Alat tulis
c. Perangkat Stasiun
-
- Radio komunikasi beserta antena dan alat ukur SWR
- Mikrofon, headphone, atau kunci morse
- Jam, kalender, dan peta lokasi
- Sumber daya cadangan (accu, powerbank DC, genset kecil)
Catatan Darurat: Pada kondisi bencana, ketersediaan perangkat cadangan, baterai tambahan, serta antena portabel sangat dianjurkan karena situasi lapangan sering berubah.
2. Etika Berkomunikasi
Etika menjadi unsur utama dalam dunia amatir radio. Komunikasi harus dilakukan dengan disiplin dan penuh sopan santun.
Beberapa poin penting:
-
-
- Hindari melakukan tuning pada frekuensi yang sedang dipakai.
- Beri jeda di antara dua pembicaraan untuk menghindari tumpang tindih.
- Gunakan bahasa yang jelas, umum, dan mudah dipahami.
- Batasi pembicaraan hanya pada hal relevan.
- Jangan makan, minum, bersiul, atau marah-marah saat mengudara.
- Sebutkan call sign secara periodik.
-
Pada komunikasi darurat, etika menjadi semakin penting karena lalu lintas komunikasi sangat padat dan menyangkut keselamatan jiwa.
3. Tata Cara Melakukan Panggilan
Sebelum memulai komunikasi:
-
-
-
- Cek apakah frekuensi sedang digunakan.
- Pastikan emisi dan band-plan sesuai ketentuan.
- Tanyakan minimal tiga kali:
- “Ada yang monitor pada frekuensi?”
- “CQ… CQ… CQ…”
-
-
Jika frekuensi ternyata sedang dipakai, pilih frekuensi lain yang kosong.
4. Tata Cara Masuk ke Komunikasi yang Sedang Berjalan
-
-
-
- Perhatikan jenis komunikasi yang berlangsung (umum, darurat, net operasi, dll.)
- Teliti siapa saja yang sedang berkomunikasi.
- Masuklah hanya pada jeda atau setelah dipersilakan.
- Setelah diizinkan masuk, sebutkan call sign dengan jelas.
-
-
Pada net emergency, operator pengendali (NCS—Net Control Station) memiliki kewenangan penuh untuk mengatur alur komunikasi.
5. Tata Cara Komunikasi via Repeater
Repeater digunakan untuk memperluas jangkauan komunikasi, terutama untuk mobilisasi tim lapangan.
Hal-hal yang harus diperhatikan:
-
-
-
-
- Jangan memakai repeater terlalu lama (dibatasi timer \pm2 menit).
- Jangan menekan PTT bila tidak berbicara.
- Setelah kontak berhasil, pindah ke simplex untuk menghemat penggunaan repeater.
-
-
-
6. Tata Cara Komunikasi dalam Keadaan Marabahaya
Komunikasi darurat (emergency communication) adalah prioritas tertinggi dalam amatir radio, itulah pentingnya memahami prosedur komunikasi darurat. Informasi yang diteruskan biasanya terkait bencana alam, permintaan evakuasi, pencarian korban, ataupun laporan kondisi wilayah.
Pedoman Utama dalam Komunikasi Darurat
-
-
-
-
- Siapkan pesan secara tertulis agar singkat, padat, dan akurat.
- Tekan PTT selama 1 detik sebelum berbicara agar audio tidak terpotong.
- Bicara dengan jelas, tidak terburu-buru, dan tepat di depan mikrofon.
- Hindari penggunaan kode yang tidak familiar bagi lawan bicara.
- Tetap sopan, tidak membuat lelucon, dan fokus pada situasi.
- Jika merelay pesan, catat terlebih dahulu lalu kirimkan persis seperti diterima.
- Sebutkan identitas (call sign) pada awal dan akhir transmisi.
- Sampaikan lokasi secara jelas dan akurat.
-
-
-
Prinsip Tambahan yang Berlaku dalam Operasi Kebencanaan
Untuk melengkapi pedoman resmi, ORARI biasanya menerapkan prinsip berikut dalam operasi lapangan:
-
-
-
-
- Prioritaskan lalu lintas “Emergency – Priority – Routine”
- Emergency: Situasi mengancam nyawa—harus dilayani segera.
- Priority: Informasi penting terkait operasi penanggulangan.
- Routine: Komunikasi umum yang tidak mendesak.
- Gunakan format laporan standar, seperti:
- Laporan situasi (SitRep)
- Laporan cuaca
- Laporan lokasi pengungsian
- Laporan permintaan bantuan (logistik, medis, evakuasi)
- Jaga net tetap bersih dan teratur
- NCS memegang kendali penuh. Semua stasiun wajib menunggu giliran.
- Gunakan frekuensi darurat yang telah ditetapkan ORARI/IARU
- Misalnya HF 7.110 MHz dan 14.300 MHz untuk tingkat nasional dan region 3.
- Prioritaskan lalu lintas “Emergency – Priority – Routine”
-
-
-

Our communications systems may seem robust, but past disasters have shown this isn’t the case…
Amateur Radio Is There When All Else Fails
(/2TFB)
