
IARU Region 3 meminta operator radio amatir menjaga frekuensi darurat gempa NTT, 7.110 MHz dan 145.100 MHz, tetap clear untuk komunikasi bencana.
yc2tfb.net — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, mendorong IARU Region 3 meminta seluruh operator radio amatir menjaga frekuensi darurat gempa NTT tetap clear. Langkah ini bertujuan memastikan komunikasi darurat dan koordinasi penanganan bencana di wilayah terdampak dapat berlangsung tanpa gangguan.
Gempa tersebut dilaporkan berdampak pada sejumlah wilayah dan menyebabkan kerusakan bangunan serta gangguan terhadap infrastruktur komunikasi normal di beberapa daerah terdampak.
Di tengah situasi tersebut, jaringan komunikasi radio amatir kembali memiliki peran penting sebagai salah satu sarana komunikasi pendukung dalam kondisi darurat dan penanggulangan bencana.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Disaster Communication Committee IARU Region 3 mengeluarkan permintaan kepada seluruh operator radio amatir di Indonesia dan kawasan Region 3 agar memberikan ruang bagi lalu lintas komunikasi darurat.
IARU Region 3 secara khusus meminta operator untuk menjaga frekuensi darurat tetap clear dan tidak menimbulkan gangguan terhadap komunikasi yang berkaitan dengan penanganan bencana.
Dua frekuensi darurat gempa NTT yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah:
| Band | Frekuensi | Penggunaan |
|---|---|---|
| 40 meter | 7.110 MHz | Komunikasi darurat HF |
| 2 meter | 145.100 MHz | Koordinasi lokal VHF di wilayah terdampak |
Frekuensi 7.110 MHz digunakan untuk mendukung komunikasi darurat melalui jaringan HF, sedangkan 145.100 MHz digunakan untuk koordinasi lokal melalui VHF di wilayah yang terdampak gempa.
Utamakan Lalu Lintas Darurat
IARU Region 3 meminta seluruh operator radio amatir memberikan prioritas mutlak kepada komunikasi yang berkaitan dengan keadaan darurat dan bantuan bencana pada kedua frekuensi tersebut.
Operator yang berada di luar wilayah terdampak juga untuk menunjukkan disiplin komunikasi dengan tidak menggunakan frekuensi darurat tersebut untuk percakapan biasa.
IARU menyarankan operator untuk memantau tanpa melakukan transmisi, kecuali memang diminta atau ditugaskan untuk membantu komunikasi darurat. Langkah sederhana ini dapat memberikan ruang komunikasi yang sangat dibutuhkan oleh operator yang menangani situasi di lapangan.
Dalam kondisi bencana, setiap detik dan setiap kanal komunikasi dapat memiliki arti penting. Karena itu, operator perlu menghindari panggilan yang tidak berkaitan dengan keadaan darurat, percakapan panjang, maupun aktivitas lain yang berpotensi mengganggu lalu lintas informasi
IARU Region 3 Siaga Mendukung Komunikasi Darurat
Disaster Communication Committee IARU Region 3, bersama para koordinator komunikasi darurat terkait dan jajaran IARU Region 3, menyatakan tetap bersiaga serta melakukan koordinasi sesuai kebutuhan.
Koordinasi tersebut untuk merespons apabila terdapat permintaan bantuan komunikasi radio amatir dalam penanganan dampak gempa.
Ketua Disaster Communication Committee IARU Region 3, Ageng Aditya, YB1BTM, menyampaikan apresiasi atas kerja sama dan kedisiplinan komunitas radio amatir dalam menghadapi situasi darurat tersebut.
“We appreciate the cooperation and discipline of the amateur radio community during this emergency.”
Permintaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa radio amatir tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan kegiatan hobi, tetapi juga dapat memberikan dukungan ketika infrastruktur komunikasi mengalami gangguan akibat bencana.
Operator Radio Amatir Diminta Disiplin dalam Penggunaan Frekuensi Darurat Gempa di NTT
Dalam situasi seperti ini, operator radio amatir sebaiknya tetap tenang, mengikuti arahan koordinator komunikasi darurat, serta menjaga etika khususnya penggunaan frekuensi darurat gempa di NTT.
Bagi operator yang tidak terlibat langsung dalam komunikasi penanganan bencana, memantau frekuensi dan tidak melakukan transmisi tanpa kebutuhan merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti.
Dengan menjaga 7.110 MHz dan 145.100 MHz tetap tersedia bagi komunikasi darurat, komunitas radio amatir dapat membantu memastikan informasi penting dari dan menuju wilayah terdampak tanpa gangguan.
Sumber: Ageng Aditya, YB1BTM
Chair, Disaster Communication Committee
IARU Region 3



