Jakarta — Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) mengumumkan aktivasi emergency communication frequency atau Frekuensi Komunikasi Darurat khusus wilayah Sumatra melalui satelit IO-86 LAPAN-A2. Pengumuman ini sejalan dengan notifikasi resmi dari IARU Region 3, yang sebelumnya telah menetapkan penggunaan jalur satelit amatir untuk mendukung komunikasi kebencanaan di kawasan Asia Pasifik.
Langkah ini diambil setelah meningkatnya potensi gangguan komunikasi darat akibat aktivitas geologis serta kondisi cuaca ekstrem yang melanda sejumlah provinsi di Sumatra dalam beberapa hari terakhir. Satelit IO-86 dipilih karena memiliki jangkauan luas dan terbukti andal untuk menghubungkan titik-titik yang terdampak bencana.
ORARI Aktifkan Frekuensi Darurat Melalui IO-86
ORARI menyatakan bahwa mode repeater satelit IO-86 akan difokuskan terlebih dahulu untuk lalu lintas komunikasi darurat. Anggota ORARI dan operator amatir radio yang berada di jalur lintasan satelit diminta mendukung pengamanan frekuensi dan memberikan prioritas penuh pada pesan berjenis emergency traffic.
Frekuensi Satelit LAPAN IO.86 mengacu pada standar IARU Region 3:
- Uplink: 145.880 MHz
- Downlink: 435.880 MHz
- Mode: FM voice emergency support
ORARI juga mengimbau seluruh operator di Sumatra untuk memantau jadwal pass satelit, memastikan perangkat siap, serta menjaga etika operasional agar traffic emergency tidak terganggu.

Jadwal Lintasan Satelit IO-86 untuk Wilayah Sumatra
Berdasarkan tabel jadwal lintasan satelit IO-86 yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta tim ground station, berikut ringkasan waktu-waktu penting ketika IO-86 berada pada posisi ideal untuk komunikasi darurat di wilayah Sumatra. Jadwal terlampir digunakan ORARI sebagai acuan utama dalam penempatan operator dan penyiapan traffic:
- Lintasan pagi hari membuka peluang komunikasi mulai sekitar 07.00–09.30 WIB, pada elevasi yang cukup stabil untuk koneksi darurat.
- Rentang siang hingga sore menunjukkan beberapa pass penting antara 12.00–16.00 WIB, yang menjadi fokus aktivasi karena jangkauannya optimal di area barat Indonesia.
- Pada malam hari, IO-86 melewati Sumatra dalam beberapa sesi singkat, dengan window komunikasi sekitar 18.30–21.00 WIB, sehingga operator diminta tetap siaga untuk menerima pesan darurat lanjutan.
Setiap lintasan memiliki durasi 6–12 menit, bergantung pada elevasi maksimum satelit. ORARI menekankan bahwa operator sebaiknya sudah standby dua menit sebelum AOS (Acquisition of Signal) dan tetap aktif sampai LOS (Loss of Signal) tercapai.
IARU Region 3 sebelumnya telah mengeluarkan advis “satellite emergency allocation notice” yang mengharuskan seluruh jaringan amatir radio memberikan prioritas penuh kepada aktivitas emergency ketika bencana besar terjadi. IO-86 menjadi salah satu aset unggulan karena merupakan satelit amatir Indonesia yang memiliki fungsi repeater FM dan dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan titik bencana dengan posko pusat.
ORARI Pusat telah menginstruksikan seluruh ORARI Daerah dan ORARI Lokal di Sumatra untuk mengaktifkan protokol standar komunikasi darurat, termasuk:
- Pengiriman laporan situasi (sitrep)
- Pemetaan kebutuhan di lapangan
- Koordinasi evakuasi
- Relai pesan dari masyarakat terdampak
Selain itu, ORARI juga menyiapkan stasiun-stasiun yang mampu mengakses satelit secara mobile untuk membantu area yang mengalami pemadaman listrik atau kerusakan infrastruktur komunikasi.

Dukungan Operator dan Masyarakat
ORARI mengajak semua amatir radio di Sumatra dan sekitarnya untuk berpartisipasi aktif menjaga kebersihan frekuensi emergency, serta tidak melakukan komunikasi non-darurat selama periode aktivasi satelit. Penggunaan IO-86 akan terus dipantau oleh ground station RISTEKBRIN dan tim teknis ORARI.
Lebih jauh, ORARI menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan Basarnas, BNPB, serta instansi pemerintah lainnya demi memastikan arus informasi kebencanaan berjalan lancar dan efektif.
Dengan memanfaatkan satelit IO-86, Indonesia kembali menunjukkan kesiapan sistem komunikasi darurat berbasis amatir radio yang dapat diandalkan saat infrastruktur darat terganggu. ORARI dan IARU Region 3 berharap sinergi ini dapat mempercepat penanganan bencana, khususnya di wilayah Sumatra yang kini berada dalam kondisi siaga. (2TFB)
